PEMERIKSAAN URINE SECARA BIOKIMIA

10Tes_Urine

Urine manusia terbentuk di ren. Di dalam ren ini, urine mengalami proses filtrasi oleh glomerulus. Setelah proses filtrasi, urine mengalami reabsorpsi selektif pada tubulus. Proses reabsorpsi selektif itu terjadi di tubulus kontortus proximal, tubulus kontortus distal, dan tubulus henle. Saat melalui tubulus-tubulus tersebut, urine mendapat tambahan zat-zat hasil sekresi tubuli. Selain itu juga terjadi pertukaran H+ dan pembentukan amonia.

Setiap hari tubuh kita ini mengeluarkan urine sejumlah 600-2000 cc. Urine yang normal berwarna kuning muda jernih. Saat dalam kondisi patologis bisa berwarna lain (coklat, merah). Normalnya urine memiliki bau khas aromatis. PH normal urine berkisar pada nilai 6. Dalam urine terkandung beberapa senyawa yang normal maupun abnormal. Senyawa yang normal terdapat pada urine diantaranya sebagai berikut: ureum, amonia, creatin&creatinin, asam urat, asam amino, allantoin, chlorida, sulfat, fosfat, mineral, dan oxalat. Sedangkan senyawa abnormal pada urine ialah glukosa, protein (proteinuria fisiologis&patologis), bilirubin, dan darah.

Untuk keperluan diagnosis maupun terapi maka diperlukan suatu pemeriksaan terhadap urine secara biokimia. Pemeriksaan urine yang bisa kita lakukan sebagai berikut: enzimatik ureum, biuret ureum, benedict garam urat, percobaan folin, percobaan schift, nitropusid kreatin, uji garam amonium, uji klorida, dan obermeyer indikan.

1.       Enzimatik-Ureum

Ureum merupakan salah satu hasil metabolisme protein. Kandungan ureum dalam urine akan dipecah oleh enzim urease (pemecah ureum) sehingga menghasilkan amonium karbonat. Reaksi tersebut akan ditandai dengan munculnya warna merah muda. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui kandungan ureum dalam urine. Alat dan bahan yang dibutuhkan ialah tabung reaksi, urine, air, pemanas, tepung kedelai, dan larutan CH3COOH. Interpretasi hasil warna urine akan berubah menjadi merah muda. Berikut ini cara kerja skematis pemeriksaan ini:

 

Enzimatik Ureum

2.      Biuret-Ureum

Ureum merupakan hasil metabolisme akhir dari protein. Umumnya meliputi 80-90% dari total nitrogen yang dikeluarkan melalui urine. Ikatan peptida dalam ureum akan bereaksi dengan reagen biuret memberikan warna biru lembayung. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui kandungan ureum dalam urine. Alat dan bahan yang diperlukan ialah tabung reaksi, pembakar spiritus, larutan NaOH 10%, larutan CuSO4, dan urine. Interpretasi hasil yaitu terjadi perubahan warna urine dari kuning menjadi biru lembayung. Berikut ini merupakan cara kerja skematis pemeriksaan biuret-ureum:

Biuret Ureum

3.      Benedict-Garam Urat

Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui kandungan garam urat dalam urine. Di dalam urine terkandung garam urat. Apabila urine direaksikan dengan benedict, maka garam urat akan direduksi oleh reagen benedict membentuk warna biru. Asam urat akan mereduksi arsen valensi 5 menjadi valensi 3. Alat dan bahan yang dibutuhkan ialah tabung reaksi, urine, reagen benedict (arsenophosposulfat), dan larutan Na2CO3 terlarut dalam air. Akan terjadi perubahan warna urien menjadi larutan warna biru. Berikut ini merupakan cara kerja skematis pemeriksaan ini:

Benedict Garam Urat

4.      Folin-Asam Urat

Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui kandungan asam urat dalam urine. Asam urat merupakan hasil akhir oksidasi urine di dalam tubuh. Asam urat tidak hanya berasal dari nukleoprotein yang terdapat dalam makanan atau dari tubuh. Asam urat dalam urine akan mereduksi reagen folin dalam suasana alkalis. Hasil akan memunculkan larutan biru jernih. Alat dan bahan yang digunakan ialah tabung reaksi, urine, reagen folin, dan Na2CO3 2%. Berikut ini langkah kerja skematis dari pemeriksaan ini:

Percobaan Folin

5.      Schift-Asam Urat

Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui kandungan asam urat dalam urine. Asam urat akan mereduksi AgNO3 membentuk Ag menjadi endapan hitam Ag. Alat dan bahan yang dibutuhkan ialah tabung reaksi, asam urat padat, larutan Na2CO3, dan larutan AgNO3. Berikut ini cara kerja skematis dari pemeriksaan ini:

Percobaan Schift

6.      Nitropusid-Kreatin

Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui kandungan kreatinin dengan mereaksikan dengan nitropusid. Kreatinin merupakan hasil pencegahan kreatin. Kreatin banyak pada anak-anak, kehamilan. Sedangkan kreatinin banyak dijumpai pada kelaparan, kegagalan metabolisme KH, hipertiroidisme, kelainan otot dan infeksi. Pada penambahan nitropusid membentuk warna kuning, dalam larutan alkalis membentuk warna merah. Sedangkan penambahan asam asetat glasial membentuk warna hijau kebiruan.  Alat dan bahan yang digunakan ialah tabung reaksi, urine, larutan NA nitropusid, larutan NaOH, asam asetat glasial, dan pembakar. Berikut ini langkah kerja skematis dari pemeriksaan ini:

Nitropusid Kreatin

7.      Uji Garam Amonium

Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui kandungan urine berupa garam amonium. Dalam urine hanya ditemukan sedikit amonium, sedang pada asidosis jumlahnya menurun. Amonium dalam urine akan bereaksi dengan Na2CO3 menjadi (NH4)2CO3. Amoniak akan dilepas dari amonium karbonat saat dipanaskan dan membentuk warna perubahan pada PP. Alat dan bahan yang digunakan adalah tabung reaksi, pembakar, urine, larutan Na2CO3, dan PP. Interpretasi hasil akan terdapat perubahan warna pada PP (merah muda). Berikut ini langkah kerja skematis dari pemeriksaan ini:

Uji Garam Amonium

8.      Uji Klorida

Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui kandungan klorida dalam urine. Klorida disekresikan dalam bentuk NaCl. Jumlah yang diekskresikan tergantung oleh asupan makanan. Kandungan klorida dibuktikan dengan adanya endapan putih setelah ditambahkan HNO3 dan AgNO3. Alat dan bahan yang dibutuhkan ialah tabung reaksi, urine, larutan HNO3, larutan AgNO3, dan larutan NH4OH. Pada akhir percobaan akan terbentuk endapan putih yang larut. Berikut ini langkah kerja skematis dari pemeriksaan ini:

Uji Klorida

9.      Obermeyer-Indikan

Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui oksidasi indikan dalam urine. Pereduksi yang berupa larutan FeCl3 dan Hcl pekat mengoksidasi gugus pereduksi (indikan) membentuk kompleks warna biru. Alat dan bahan yang digunakan ialah tabung reaksi, reagen obermeyer&kloroform, dan urine.  Berikut ini langkah kerja skematis dari pemeriksaan ini:

 Obermeyer Indikan

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: