Catatan Kuliah Blok Psikiatri #3

PSIKIATRI GERIATRI, KOMUNITAS, DAN BUDAYA

@ RK 2 FKUNS

IGB. Indro, dr., SpKJ

22 NOVEMBER 2011

 

Subspesialisasi Ilmu Psikiatri salah satunya adalah psikiatri geriatri yang mempelajari gangguan-gangguan pada penuaan dan pengobatannya. Jenisnya ada dua yaitu depresi dan demensia.

 

 

Depresi pada lansia :

  1. 15% pada populasi lansia
  2. Jarang terdiagnosis
  3. Beda dengan depresi pada orang muda
  4. Gejala tidak khas

Etiologi depresi lansia :

  1. Biologis
  2. Psikologis –> kepribadian tidak matang
  3. Sosial –> faktor sosial seperti kehilangan pekerjaan, kesepian, kehilangan orang yang disayangi.

Obat yang bisa menyebabkan depresi :

  1. Digoxin (obat pada penyakit jantung),
  2. L-DOPA (obat pada penyakit parkinson),
  3. Steroid,
  4. Beta-blocker,
  5. Antihipertensi,
  6. Benzodiazepin kronis,
  7. Phenobarbital,
  8. Pemakaian neuroleptik (antipsikotik) secara kronis.

Gejala depresi menurut ICD 10 :

Gejala Umum :

  1. Mood/afek depresi,
  2. Kehilangan minat,
  3. Kehilangan energi.

Gejala lain :

  1. Kurang konsentrasi,
  2. Kurang harga diri,
  3. Rasa bersalah,
  4. Pesimistis
  5. Merusak diri,
  6. Gangguan tidur,
  7. Gangguan nafsu makan.

Klasifikasi depresi menurut ICD 10 :

  1. Episode depresi : ringan, sedang, berat;
  2. Depresi berulang;
  3. Gangguan afektif bipolar;
  4. Gangguan mood/afektif menetap (Distimia) yaitu perasaan sedih yang terus menerus > 2 tahun;
  5. Gangguan mood lainnya seperti siklotinia.

Episode depresi berat dengan gambaran melankholik :

  • Mood/afek depresia,
  • Hipokhondriasis –> merasa menderita penyakit tertentu yang berat tetapi hasil pemeriksaannya normal. Kadang-kadang sampai tingkat waham,
  • Perasaan rendah diri dan tidak berguna,
  • Kecenderungan menyakiti diri sendiri –> paranoid/bunuh diri.

Depresi agitatif :

  • Peningkatan aktivitas,
  • Mondar-mandir,
  • Meremas-remas tangan,
  • Perlu perhatian terus-menerus,
  • Menyulitkan keluarga/pasangan hidup.

Depresi terselubng :

  • Istilah lama –> bisa diterapkan pada populasi lansia,
  • Perlu pencarian gejala dan tanda depresi lainnya.

Pseudodemensia :

  • Pasien depresi yang mengalami penurunan daya ingat yang bermakna,
  • (reversibel) dengan terapi depresi yang efektif,
  • Kalo tidak segera diterapi –> prognosis buruk,
  • Perlu pemeriksaan yang lebih rinci –> memori daya ingat dan gejala-gejala depresi,
  • Diterapi dulu depresinya.

Bunuh diri pada lansia :

  • Berhubungan dengan depresi,
  • Lansia lebih rentan dibanding orang yang lebih muda,
  • Laki-laki > wanita,
  • Berkabung, kesepian, dan isolasi sosial,
  • Pemakaian alkohol semakin meningkatkan resiko.

Terapi depresi pada lansia :

  • Perhatikan kerentanan psikologis lansia yang sensitif terhadap efek samping psikotropik dengan dosis rendah (1/3 – 1/2 dosis dewasa),
  • Hipotensi postural yang sering dijumpai dapat menyebabkan akibat serius dan fatal.
  • Perhatikan riwayat penyakit kardiovaskuler,
  • Diperburuk oleh efek sedatif antidepresan dengan kecenderungan besar untuk jatuh.

Demensia :

  • Masuk neurologi dan psikiatri,
  • Gangguan perilaku dan emosi,
  • Ciri khas –> kronis dan progresif

Psikiatri masyarakat :

  • Pengobatan menyeluruh terhadap gangguan mental dalam masyarakat (promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif),
  • Revolusi psikiatri 1 –> gangguan mental bukan akibat ilmu sihir
  • Revolusi psikiatri 2 –> psikosomatis,
  • Revolusi psikiatri 3 –> psikiatri masyarakat.

Psikiatri pencegahan :

  • Tujuannya untuk memperbaiki awitan, lama, dan kecacatan sisa dari gangguan mental.
  • Pencegahan primer

Bertujuan untuk menurunkan insidensi gangguan dengan cara menghilangkan agen penyebab, mengurangi faktor risiko, meningkatkan daya tahan host, dan mencegah transmisi penyakit –> kesurupan masal.

  • Pencegahan sekunder

Tujuannya untuk menurunkan prevalensi gangguan dengan mengurangi durasi dengan cara mengidentifikasi/deteksi dini dan pengobata segera.

  • Pencegahan tersier

Tujuannya untuk mengurangi defek dan kecacatan residual yang disebabkan oleh penyakit/gangguan dengan cara rehabilitasi psikiatrik.

Respons masyarakat terhadap pasien gangguan jiwa :

  • Stigma negatif gangguan jiwa,
  • Permasalahan : pasien dengan gangguan jiwa sulit diprediksi dan berbahaya,
  • Sikap negatif terhadap gangguan jiwa akan menghambat individu mencari bantuan psikiatrik.

Determinan sosisobudaya pada gangguan jiwaa

Gangguan jiwa/gejala psikologis lebih sering ditemukan pada :

  • Kelas sosioekonomi yang rendah,
  • Tanpa ikatan sosial yang berarti,
  • Tidak punya peran sosial yang bermanfaat,
  • Kehilangan traumatik ikatan sosial yang bermakna,

Perubahan budaya :

  • Urbanisasi yang tinggi,
  • Penyesuaian terhadap budaya yang berbeda/baru,
  • Jika mendadak akan mengakibatkan culture shock (cemas, depresi, derealisasi,dll),
  • Dapat ditekan dengan jaringan/dukungan sosial yang kuat dan kesiapan dalam menerima budaya yang baru.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: