Kisah Sang Tukang Cukur

Suatu ketika ada seorang mahasiswa peguruan tinggi negeri di suatu kota hendak potong rambut karena rambutnya sudah terlalu panjang. Setelah mencari-cari tukang cukur di sekitar kampus akhirnya ketemu juga tempat potong rambut yang sesuai dengan harapannya. Ini merupakan kali pertamanya potong rambut di tempat tersebut. Ternyata cukup ramai juga di tempat tersebut, bisa ia lihat antrean pelanggan yang lain sehingga ia pun harus ikut mengantre. Akhirnya tibalah gilirannya untuk mendapatkan jasa tukang cukur tersebut. Tukang cukur tersebut cukup ramah kepadanya. Tak hanya sekedar memotong rambut begitu saja, sang tukang cukur sambil mengajaknya ngobrol ngalor ngidul.

Pembicaraan menarik terjadi antara dua orang tersebut. “Mas, saya itu gak percaya adanya Tuhan lho,” ungkap sang tukang cukur. Mahasiswa menjawab, ” Kok bisa pak, bapak nggak percaya sama Tuhan. Hati-hati lho pak kalo punya keyakinan seperti itu,”. Mahasiswa tersebut kaget mendengar ucapan tukang cukur tersebut. Bagaimana tidak, jaman modern dimana ilmu pengetahuan dijunjung tinggi masih ada aja orang yang tidak percaya dengan adanya Tuhan. Lanjut ke percakapan mereka berdua ya.

“Gimana saya percaya ada Tuhan mas. Coba mas lihat di luar sana tuh,” ucap sang tukang cukur sambil menunjuk ke arah luar jendela. Terlihat ada beberapa pengemis di sekitar lampu merah dekat tempat potong rambut tersebut. “Tuh lihat mas, masa iya, di luar sana banyak orang miskin mas. Banyak juga orang yang merana dan nasibnya tak jelas bagaimana. Dimana Tuhan selama ini. Harusnya kalo Tuhan itu ada, orang-orang seperti mereka itu nggak ada, yang ada semua orang hidupnya penuh dengan kebahagiaan mas.”

Mahasiswa tersebut hanya bergumam dalam hati. Tak terasa sudah selesai sang tukang cukur memotong rambutnya. Lantas ia membayar jasa sang tukang cukur tersebut sambil berkata “Pak, saya nggak percaya dengan adanya tukang cukur lho pak!”. Sang tukang cukur gantian menjadi kaget. Padahal kan baru saja ia memotong rambutnya. Mana mungkin si mahasiswa nggak percaya dengan adanya tukang cukur. Lantas ia gantian bertanya mengapa si mahasiswa tak mempercayai adanya tukang cukur. Begini jawaban mahasiswa tersebut yang membuat sang tukang cukur tak bisa berkata-kata dan akhirnya tersadar, “Lha gimana saya mau percaya bahwa tukang cukur itu ada. Lihat tuh pak di luar sana banyak orang-orang yang rambutnya gondrong. Harusnya kalo tukang cukur itu ada, semua orang pasti rambutnya pendek dan rapi seperti saya ini.”

Ketika ada orang-orang yang rambutnya gondrong, supaya mereka rambutnya pendek dan rapi, maka harus mendatangi tempat potong rambut. Begitu juga dengan kita, manusia, agar hidup kita bahagia dan tentram, maka kita harus sering mendekatkan diri pada Alloh Swt.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: