Mengajak Si Pandai Besi Agar Menjadi Penjual Minyak Wangi

Sore ini aku dikagetkan dengan kunjungan atau lebih tepatnya sidak dua teman SMAku dulu, Fajar dan Ade. Keduanya juga kuliah di UNS. Mereka kuliah di fakultas mipa uns sedangkan aku di fakultas kedokteran uns. Dua fakultas yang jaraknya bersebelahan persis. Kos mereka sama yaitu di daerah Gulon, Jebres, Solo. Sementara kosku juga tak jauh dari kos mereka, hanya berbeda RT saja, sama-sama daerah Gulon, Jebres, Solo. Anehnya ya itu, kami jarang sekali saling mengunjungi satu sama lain walaupun jarak tempuh antara fakultas dan kos kami bisa dibilang tak terlalu jauh.

Ya kunjungan mereka tadi sore cukup menjadi suatu pengingat buatku bahwa aku punya teman-teman lama yang juga perlu tetap dijaga silaturahminya. Tak hanya kita disibukkan dengan aktivitas harian bersama teman baru kita di lingkungan saat ini berada. Memang selama ini aku lebih sering berinteraksi dengan teman-teman baruku di Solo yang praktis baru kukenal semenjak aku kuliah di kota Spirit of Java ini. Hal itu tak kupungkiri karena aku lebih nyaman ketika berada di tengah-tengah teman baruku saat ini. Ukhuwahlah yang membuatku lebih betah bersama teman-teman baruku di Solo.

Dibandingkan teman-temanku dulu, teman-teman baruku memang lebih paham tentang agama. Mereka lebih sholeh dan faqih dalam kehidupan sehari-harinya. Bukankah kita dianjurkan untuk bergaul dengan penjual minyak wangi agar kita juga ikut terkena imbasnya sehingga kita pun ikut wangi karenanya. Sebisa mungkin menjauh dari tukang pande besi supaya tidak terkena imbas yang sebaliknya dari bergaul dengan penjual minyak wangi. Sejenak aku berpikir, kenapa aku tidak mengajak si pande besi untuk mencoba menjadi penjual minyak wangi ya? Atau minimal mengajaknya untuk dekat-dekat dengan penjual minyak wangi lah.

Pun posisi diriku harus memilih salah satu, tak bisa aku memilih diantara keduanya. Ya, intinya aku mengajak untuk sebisa mungkin jangan meninggalkan pande besi begitu saja. Akan tetapi mengajaknya mendekat kepada penjual minyak wangi, syukur-syukur ia bisa beralih profesi menjadi penjual minyak wangi. Yang utama kita juga harus bisa menjadi penjual minyak wangi yang baik untuk teman-teman kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: