WISUDA SARJANA KEDOKTERAN

Dalam hidup ini, banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil dari lingkungan sekitar kita. Kapan pun, dimana pun, dan dari siapa pun itu pastilah ada pelajaran yang bisa kita ambil. Semua tergantung individu masing-masing apakah ia bisa membuka mata hatinya agar bisa mengambil ibroh dari tiap kejadian yang menimpa dirinya dalam keseharian. Seorang mukmin merupakan individu yang beruntung, karena ia senantiasa berpikir membaca keadaan sekitar. Bukankah Alloh Swt dalam Al Qur’an berkali-kali menegaskan bahwa DIA menghamparkan banyak pelajaran bagi manusia, dan hanya manusia yang mau berpikirlah yang akan beruntung.

Bagaimana dengan keseharian kita sebagai seorang mukmin? Sudahkan hati ini bisa terbuka untuk menerima setiap pelajaran yang terhampar di sekitar. Semua butuh proses dan latihan. Ia bermula dari kebiasaan (habits). Pernah mendengar nasihat dari Ustadz Felix Siauw bahwa habits ini berawal dari komitmen dan pengulangan. Seorang pakar dan ahli itu merupakan hasil dari kebiasaannya. Maka marilah bersama berusaha menjadikan kebiasaan kita sehari-hari bernilai positif agar timbul energi positif dalam hidup ini.

Hari ini bagiku memiliki makna yang istimewa. Hari ini adalah satu hari pasca wisuda sarjanaku, wisuda Sarjana Kedokteran. Alhamdulillah satu fase kehidupan ini bisa kulalui dengan lancar. Ya dengan usaha keras akhirnya Alloh Swt memudahkanku dalam menempuh jenjang studi ini. Dimana aku telat 1 semester dari lama studi normal. Luar biasa memang, karena aku satu diantara beberapa mahasiswa “luar biasa” dimana menyelesaikan studi S.Ked dalam waktu 8 semester yang seharusnya ditempuh dalam tempo 7 semester. Ini menjadi pelajaran tersendiri bagiku, harus itu, aku harus belajar dari pengalamanku yang satu ini. Kalau aku mengambil intinya, aku terlambat menyelesaikan studi karena belum bisa memanage diri dengan optimal. Kedepannya aku harus bisa manajemen diri dengan baik. Karena aku yakin, bahwa selama kuliah S.Ked ku ini aku belum mengeluarkan seluruh kemampuanku dengan optimal. Masih banyak tak fokus dalam keseharian.

Dulu saat sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, alhamdulillah aku selalu mendapatkan peringkat 3 besar di kelas. Bahkan saat sekolah menengah pertama aku bisa dengan konsisten berada di 2 besar di kelas yang notabene sekolahku saat itu berisi putra-putri terbaik kota Kebumen. Saat sekolah menengah atas memang aku merasakan penurunan yang drastis dalam akademisku, aku selalu konsisten di 10 besar terbawah di kelasku. Tak kupungkiri bahwa saat itu fase kehidupan yang berbeda telah datang. Saat itu aku belum bisa beradaptasi dengan baik dengan fase tersebut. Dimana saat SMA adalah fase terpenting dalam pembentukan jati diri dan pilihan hidup seseorang. Namun aku tidaklah kecewa dengan hasil tersebut, aku berhasil mendapatkan pengalaman-pengalaman berharga untuk mengarungi fase berikutnya dalam hidupku. Ya, pengalaman berorganisasi dan bersosialisasi yang pastinya tidak semua anak bakal mendapatkan pengalaman yang satu. Pelajaran hidup yang membentuk karakter seseorang. Saat itu aku berbenturan dengan banyak sekali masalah, memang sempat jatuh bangun, namun berkat semua itu aku bisa belajar. Bahwa hidup itu adalah perjuangan, perjuangan untuk menggapai apa yang Alloh Swt kehendaki dari penciptaan kita sebagai hambaNya. Kita tak boleh kecewa dengan apa yang telah lalu, baiknya kita mengambil pelajaran dari apa yang telah berlalu, itu sudahlah cukup.

Sekarang, saat usiaku menginjak 22 tahun, aku telah mendapatkan gelar sarjana kedokteran. Iya betul, alhamdulillah sekarang Imam Mi’raj Suprayoga, S.Ked. ini berarti tanggung jawab baru akan menanti. Tanggung jawab pribadi dan sosial telah menanti. Apakah aku bisa membuktikan dan membaktikan ilmu yang telah aku dapatkan di bangku kuliah pre-klinikku akan diuji kedepannya. Beberapa saat lagi aku akan menempuh pendidikan profesi koas/dokter muda di Rumah Sakit Dr. Moewardi (RSDM) Surakarta. Semoga secuil pengalaman studiku di masa yang lalu bisa menjadi pelajaran. Nikmati saja prosesnya, teringat dengan kisah dalam film 3 idiots, dimana tokoh utamanya Ranchodas Shamaldas Chancad memberikan pelajaran bahwa kita belajar bukan untuk mencari gelar ataupun mendapatkan pekerjaan, tapi yang terpenting adalah proses belajar itu sendiri dimana setelah itu kita bisa mengaplikasikan ilmu yang kita punya dalam kehidupan sehari-hari. Aku bertekad untuk menempuh studi dokter mudaku dengan semaksimal mungkin.

Ya Alloh, berikanlah hamba kemudahan dalam menjalani hidup dariMu ini. Senantiasa berikan kami petunjukMu agar kami berada di jalan yang Engkau ridhoi. Hasbunalluhu wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’man natsir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: