Debut Asisten Satu Khitan/Sirkumsisi

Surakarta, 30 Juni 2013.

Ahad kali ini merupakan hari yang spesial buatku. Hari ini untuk pertama kalinya aku melakukan khitan (sirkumsisi) menjadi asisten satu. Sebelumnya aku pernah memiliki pengalaman dalam khitan (sirkumsisi) namun hanya sebagai asisten dua. Pada kesempatan kali ini aku mendapatkan kesempatan untuk menjadi asisten satu, bahkan beberapa kali menjadi operator setengah matang. Sebagai seorang dokter umum nantinya kita dituntut untuk memiliki kompetensi melakukan khitan (sirkumsisi), bahkan masuk ke dalam area kompetensi empat. Akan tetapi, pada kenyataannya mahasiswa kedokteran jarang sekali mendapatkan kesempatan untuk belajar sirkumsisi secara maksimal. Kami hanya mendapatkan teori sekadarnya. Untuk prakteknya sangatlah minim kesempatan. Kalaupun ada momen untuk belajar sirkumsisi itu sangatlah jarang, paling-paling saat RS Dr Moewardi memiliki “gawean” baru kami berkesempatan untuk belajar lebih mengenai hal tersebut.

Untuk mempelajari sirkumsisi dengan maksimal, kebanyakan dari mahasiswa kedokteran memperoleh pengalaman dari acara-acara baksos khitan massal yang diadakan oleh UKM, organisasi, atau lembaganya masing-masing. Sehingga setiap ada kesempatan untuk “main” (istilah kami untuk menyebut tindakan medis melakukan sirkumsisi terhadap pasien) akan banyak mahasiswa yang ingin mendapatkan kesempatan lebih, terkadang terkesan seperti berebut job. Bagaimana tidak, kesempatan langka seperti ini harus bisa dimanfaatkan dengan baik oleh setiap orang jika ia ingin memiliki skills memadai. Namun, beberapa dari mahasiswa juga ada yang acuh ketika ada tawaran job sirkumsisi. Ya namanya mahasiswa dimanapun dan jurusan apapun pasti akan ada variasi tipikalnya. Pun dengan kami, mahasiswa kedokteran.

Alhamdulillah, aku termasuk diantara mahasiswa yang terlambat dalam mempelajari skills sirkumsisi ini. Permasalahannya adalah di awal-awal semester aku kurang bisa mengembangkan jaringan kenalan yang aku punya untuk mempelajari skills sirkumsisi ini. Aku belumlah terlalu aktif di UKM, organisasi, ataupun lembaga yang aku ikuti di kampus. Padahal aku aktif di SKI dan BSMI. Ya memang kebetulan pada saat itu SKI tidak ada kegiatan baksos khitan, sedangkan di BSMI aku tergolong anggota yang terlambat mendaftar. Aku mendaftar menjadi anggota BSMI pada semester enam disaat beberapa temanku sudah melenggang menjadi operator khitan (dalam tindakan khitan di kampus kami dibagi menjadi 3 job utama yaitu asisten dua, asisten satu, dan operator). Setelah mendaftar BSMI pun sampai saat ini aku tidak aktif dalam kegiatan-kegiatannya.

Wajar saja hingga aku semester tujuh plus ini aku baru berkesempatan menjadi asisten satu. Ya tak apalah, walaupun terlambat, yang terpenting aku harus memiliki kemauan untuk mengejar ketertinggalan ini. Alhamdulillah hari ini aku berkesempatan mengikuti baksos yang dilaksanakan oleh Pondok Pesantren Assalaam Solo. Ponpes Assalam mengundang tim medis kajian Ma’had Adz Dzikr. Kali ini kami mendapatkan jatah untuk menangani lima pasien khitan. Aku bekerja sama dengan mas Yasjudan sebagai operator dan Ivan yang selalu bergantian denganku untuk menjadi asisten satu dan dua. Total kami mendapat enam pasien, hanya saja satu pasien menderita epispadia (ostium urethra eksternumnya terletak di dorsal penis) sehingga pasien ini tidak bisa dikhitan karena hal ini merupakan kontraindikasi dilakukan sirkumsisi. Pasien ini pun dirujuk ke dokter bedah setelah kami berkonsultasi dengan dokter penanggungjawab baksos ini (dr.Yusuf Bachtiar).

Awalnya aku menjadi asisten dua pada kali pertama. Kemudian yang kedua dan ketiga aku menjadi asisten satu. Nah pada saat menjadi asisten satu inilah kemampuanku diuji. Segala kemampuanku diuji. Kemampuan dalam menenangkan diri saat menangani tindakan bedah minor ini, kemampuan dalam berkomunikasi dengan pasien, kemampuan dalam mempelajari teknik sirkumsisi dari sang operator, dan kemampuanku dalam memberanikan diri mencoba hal baru dalam melakukan sirkumsisi. Beberapa kali aku ditantang oleh mas Yasjudan untuk melakukan beberapa tindakan yang bahkan membayangkannya pun tidak akan aku lakukan pada hari ini. Aku ditantang untuk melakukan insisi kulit, menjahit, dan anestesi lokal pada pasien. Wah sungguh luar biasa! Berkat tantangan ini pula aku bisa memberanikan diri mencoba hal baru ini. Dan nyatanya aku bisa melakukannya dengan “lumayan” baik. Terkadang kita memang perlu pressure untuk melakukan tindakan tertentu, yang dengan adanya pressure tersebut kita bisa melakukan suatu hal yang awalnya tak mungkin menjadi mungkin karena adanya pressure ini. Itu yang aku ambil dari kejadian yang kualami hari ini. Mungkin seandainya hari ini aku tak dipaksa untuk melakukan insisi, menjahit, dan anestesi pasien, aku tak bisa melakukannya untuk beberapa waktu. Sekarang tinggal saatnya menambah jam terbang sehingga jalan menjadi operator akan semakin terang. Semuanya berawal dari kebiasaan. Kita bisa karena kita biasa. It’s the power of habits!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: